BANNER ATAS POS

BENGKULU. RPĀ  Program nasional Perhutanan Sosial, dinilai mampu menjadi solusi legal bagi masyarakat untuk mengelola hutan. Akses yang legal diharapkan mampu menjadi jembatan menggapai peningkatan kesejahteraan dan hadirnya negara dalam melindungi masyarakatnya. Hal sampaikan Pelaksana tugas Gubernur Bengkulu, Rohidin Mersyah saat membuka Festival Kehutanan yang digelar Dinas Lingkungan Hidup dan Kehutanan Provinsi Bengkulu.

Rohidin menceritakan, kerusakan hutan di Bengkulu sempat menjadi sorotan. Penyebabnya antara lain perambahan hutan untuk kebun. Sedangkan pelakunya, adalah masyarakat yang juga harus dilindungi.

“Ada masyarakat membuka hutan untuk berkebun, ini jelas melanggar. Tapi ketika ia ditangkap, timbul lagi permasalahan sosial. Karena sejatinya mereka adalah rakyat yang harus kita lindungi. Kasus seperti ini, haruslah ada solusi berkelanjutan, salah satunya ya Perhutanan Sosial yang jelas legal dan mampu memberikan peningkatan ekonomi masyarakat sekitar,” terang Rohidin usai membuka festival, Kamis (22.11.18)

Dirinya juga mengapresiasi lembaga ataupun kelompok masyarakat kawasan hutan di Bengkulu, yang dapat melakukan inovasi pengelolaan dan pemanfaatan hasil hutan dengan berorientasi pada kelestarian. Menurutnya, pelaku bisnis kehutanan juga harus mampu bergerak dinamis mengikuti perubahan.

“Bagaimana memanfaatkan sumber daya hutan tanpa harus merusak hutan apa lagi mengkonfersi lahan,” tegas Rohidin.

Dalam kesempatan itu, Kepala DLHK Provinsi Bengkulu, Agus Priambudi menerangkan, festival kehutanan juga menjadi media sosialisasi pemanfaatan hutan yang lestari. Banyak produk dan pemberdayaan yang dapat dilakukan.

Ekowisata juga menjadi unggulan pemanfaatan hutan di Bengkulu. Pasalnya, di hutan Bengkulu terdapat spot-spot wisata yang indah. Tinggal, bagaimana stake holder menjalin kerja sama kemitraan sehingga bisa dilakukan pembangunan infrastruktur dan pemanfaatan area hutan.

“Kalau ada spot di kawasan hutan lindung atau kawasan taman nasional, yang harus dilakukan adalah menjalin kemitraan buat kesepakanan kerja sama. Seperti halnya Danau Dendam Tak Sudah Kota Bengkulu, itukan nanti sebagai wisata alam,” demikian tutur Agus.

Festival Kehutanan, digelar 22-24 November 2018 terdapat pameran hasil karya kelompok masyarakat kehutanan. Workshop pengembangan bisnis kehutanan dan konsultasi kewirausahaan serta diskusi penguatan kelembagaan kelompok pengelola hutan di Provinsi Bengkulu.

(Mc)